Senin, 11 Mei 2009

makalah batik

Senin, 11 Mei 2009
Aspek Ekonomi dan Perdagangan Batik Indonesia*)

Oleh : H. Noorbasha Djunaid.
(Ketua Umum GKBI)

Pada jaman kerajaan di Jawa, para anggotauarga kerajaan membuat corak batik pada kain-kain mereka untuk dikenakan secara ekslusif. Batik hanya dikenakan oleh keluarga raja dan para bangsawan. Rakyat biasa waktu itu belum bersentuhan dengan batik. Sampai ketika Islam masuk jawa tradisi ini masih berlaku.

Ketika Balanda masuk menjajah Indonesia, banyak keluarga kerajaan yang menentang Belanda mengungsi ke desa-desa atau ke kampung-kampung, berbaur dengan masyarakat umum. Kemudian mereka membuat batik untuk dijual kepada umum. Mereka juga mengajarkan cara membuat batik kepada masyarakat, sehinggan batik tidak lagi menjadi pakaian ekslusif.

Ada dua aliran dalam pembicaraan masalah batik saat ini, yaitu aliran yang berusaha mempertahankan batik sebagai nilai budaya, dan aliran yang melihat batik sebagai salah satu dari komoditas ekonomi yang diperdagangkan.

Namun sebenarnya, pandangan bahwa batik sebagai nilai budaya sudah berhenti ketika para raja-raja jawa pada jaman dulu mengumumkan bahwa batik tidak lagi menjadi monopoli kerajaan tetapi boleh dipakai oleh siapa saja. Sejak itu bicara batik adalah bicara perdagangan. Orang membuat batik adalah untuk dijual, meskipun ia mengatakan sebagai karya seni, ketika bicara masalah harga maka benda seni itu menjadi benda komoditi.

Batik memang memiliki corak seni dan memiliki cirri khas yang indah. Namun orang sekarang berbeda pandangan apakah pembuatan batik dengan cara printing juga disebut sebagai batik. Kita tidak akan membicarakan masalah ini lebih jauh, karena tema pembicaraan kali ini adalah ASPEK EKONOMI DAN PERDAGANGAN BATIK INDONESIA

Seni menunjang sebuah komoditas agar sebuah barang memiliki nilai tambah dan dapat diterima di pasar untuk kemudian dibeli oleh konsumen. Karena itu karya seni dalam batik harus memberi nilai tambah tetapi tidak membuat beban biaya yang tinggi, karena jika biaya tinggi maka harga barang itu tidak mampu bersaing. Berarti nilai ekonominya menjadi tidak efektif.

Berbicara batik dari sisi komoditas ekonomi, tidak bisa lepas dari hukum-hukum ekonomi seperti komoditas-komoditas perdagangan lainnya seperti harga, biaya, efisiensi dan sebagainya. Artinya kita tidak bisa memaksa masyarakat berpakaian batik dengan alasan budaya. Produk batik harus memiliki daya saing terhadap produk tekstil lainnya.

Seperti di negara-negara lain, pakaian tradisional telah banyak ditinggalkan oleh masyarakatnya. Di Jepang, misalnya, kimono juga tidak diutamakan oleh orang Jepang sebagai pakaian nasional. Di dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, orang memilih pakaian semata-mata berdasarkan pertimbangan ekonomis, yaitu ia akan menjatuhkan pilihannya di antara sekian banyak pilihan pakaian lainnya dengan pertimbangan harga, kwalitas dan kesukaannya. Karena itu ketika konsumen memilih batik untuk dibeli, ia membeli keindahan batik, bukan karena nilai tradisionalnya.

Ketika Indonesia mengalami masa krisis ekonomi tahun 1997, harga dollar tiba-tiba melonjak dari Rp 2.750,- menjadi Rp 18.000,- Secara umum, makro maupun mikro ekonomi jelas situasi ini tidak menguntungkan. Banyak perusahaan-perusahaan besar gulung tikar, bank-bank besar dilikuidasi, dampaknya pengangguran semakin bertambah sementara hutang negara dan swasta dengan kurs dollar pun semakin membengkak.

Recoveri ekonomi ternyata tidak bisa dilakukan dalam tempo singkat, namun ada keajaiaban di tengah krisis ekonomi yang hampir membuat putus asa, dunia usaha pada sektor-sektor riel usaha kecil tertentu justru bangkit. Banyak pengrajin batik, pengrajin ukiran kayu, petani-petani hasil komodiatas ekspor menjadi solusi yang agak meringankan. Ketika banyak konglomerat gulung tikar, usaha kecil menengah justru bertahan.

Di Pekalongan, di tengah masyarakat dilanda persoalan krisis tiba-tiba muncul Pasar Grosir Setono, disusul dengan Grosir-grosir lainnya, muncul ratusan toko-toko batik. Artinya, diakui atau tidak diakui ada pertumbuhan penjualan batik di Pekalongan. Hal ini patut dijadikan perhatian, karena sector batik justru tumbuh di tengah krisis ekonomi.

Ada permintaan pasar batik yang cukup besar. Dan batik yang banyak diminta jelas adalah batik dengan nilai komersial, corak bagus, harga bersaing, produknya memuaskan. Batik Indonesia banyak dikirim ke negara-negara seperti Eropa, Amerika, Pilipina, Thailand, Afrika, dan negara-negara lainnya. Batik Indonesia memang sudah memiliki nama di dunia internasional. Karena itu adalah kewajiban bagi para pengusaha batik untuk lebih mendalami masalah batik agar bisa terus berkembang menjadi komoditas andalan. Terutama dalam rea perdagangan bebas AFTA dan APEC.

Menurut saya Pengusaha Batik harus tidak lagi mengandalkan feeling tradisionalnya saja dalam menjalankan bisnisnya. Dia harus belajar manajemen, mengerti ilmu ekonomi, mengerti situasi pasar antara permintaan dan penawaran, mengerti tren konsumen, menguasai cara-cara ekspor impor, mengerti pemasaran produk lewat e-commerce, dan sebagainya. Dalam menghadapai tantangan ekonomi ke depan kehalian-keahlian itu harus dimiliki, karena jika tidak akan dimiliki oleh orang lain.
Prospek ekonomi batik ke depan memang tergantung dari kepiawaian para pengusaha dan pedagang batik dalam mengolah produksi dan memasarkannya. Jika kita lihat, situasi tekstil dalam negeri yang kurang menggembirakan, karena tidak ada lagi kuota ekspor ke Amerika Serikat, di mana negara ini merupakan pembeli terbesar, maka batik diharapkan bisa menjadi ujung tombak dari ekspor tpt ke luar negeri. Dengan corak dan kehkasan batik diharapkan dapat menarik perhatian konsumen tekstil dan produk tekstil dengan menembus pasar ekspor dunia tanpa bergantung pada kuota.

Pekalongan, 19 Maret 2005

* ) Makalah ini disampaikan pada acara seminar Batik di Gedung PPIP Pekalongan tanggal 19 Maret 2005 

Sumber : GKBI.info

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Bagoes © 2008. Design by Pocket